Logo Design by FlamingText.com

Selamat Datang

Selamat Datang
"Terima Kasih dan Mohon di Share Jika Konten Ini Bermanfaat"
"Peace, Love, Life and Fun"

Kamis, 26 September 2013

Sayyid Hasan Nasrullah Tuturkan Kisah-Kisah Menakjubkan Dalam Perang Lawan Israel


Sayyid Hasan Nasrullah Tuturkan Kisah-Kisah Menakjubkan Dalam Perang Lawan Israel
Beberapa Kisah Pertempuran dan Pertolongan Allah dari Ayt. Misbah Yazdi yang disampaikan langsung oleh Sayyid Hasan Nasrullah
misbah-muda.jpg

Banyak cerita yang terjadi di zaman permulaan munculnya Islam. Kejadian yang menunjukkan mukjizat ilahi. Mengenai perang Badr, Ayat al-Quran turun “Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badr , padahal kamu adalah ( ketika itu ) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya (3:123).” Dan ayat “( Ingatlah ), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut- turut)” (8:9). Bagaimana al-Quran dengan kewibawaannya menceritakan turunnya para malaikat. Namun, menurut pemahaman saya yang dangkal ini, cerita yang terjadi dalam perang 33 hari lebih agung dan besar. Sebagian cerita ini saya sempat mendengarkannya lewat orang lain ketika beliau datang ke Iran dan akhirnya mendengar langsung dari Sayyid Hasan Nasrullah. Buat saya, mempercayai cerita-cerita ini sangat sulit.
1. Cerita pertama ini pernah saya dengar di Iran lewat orang lain yang disampaikan ketika Sayyid Hasan Nasrullah ke Iran. Ceritanya tentang debat atau wawancara yang dilakukan dengan seorang tentara atau komandan yang disiarkan oleh tv Israel. Ini sebuah dialog yang hakikatnya merendahkan mereka sendiri, tapi tidak dipahami ke sana. Komandan pasukan ini meyakini bahwa musuh yang dihadapinya, Hizbulah, adalah orang-orang yang percaya akan khurafat dan takhayul. Ketika kami mendekati pasukan Hizbullah dan menguasai keadaan dan dengan maksud menghancurkan mereka, tiba-tiba muncul beberapa orang dengan berpakaian putih menuju ke arah kami sambil membawa pedang. Orang-orang seperti inilah yang menghadapi kami dengan segala peralatan modern. Dengan gaya melecehkan mereka, kami menembak ke arah mereka.
Namun, yang terjadi adalah setiap tembakan kami tidak menyentuh mereka. Ada yang datang mendekat dan memotong tangan saya. Tangannya terpotong tinggal sikut dan itu ditunjukkan ke televisi sambil berkata bahwa tangan saya dipotong dengan senjata pedang. Mereka yang melakukan ini adalah orang-orang yang berpakaian putih-putih. Lihatlah, bagaimana Allah dengan kekuasaannya membuat hal ini disiarkan di televisi Israel.
2. Cerita ini disampaikan langsung oleh Sayyid Hasan Nasrullah. Dan menurut saya, cerita ini sangat penting. Beliau sendiri berkata bahwa selama perang 33 hari, pasukan Hizbullah tidak melakukan apa-apa. Kami tidak berperang, semuanya adalah bantuan Allah. Beliau kemudian menukilkan cerita bahwa salah seorang dari komandan pasukannya, yang tidak diingat namanya, berada di sebuah kawasan yang sangat sulit. Mereka bukanlah pasukan modern yang memiliki senjata dan amunisi lengkap. Yang dimiliki hanyalah sebuah peluncur roket panggul atau maksimalnya dibarengi dengan roket Katyusha. Dengan peralatan sederhana ini mereka menyerang pasukan Israel.
Serangan yang dilakukan hanya pada waktu siang hari dan bila diserang mereka tidak akan mampu bertahan lama. Ketika itu, pasukan Israel bersiap menyerang pada malam hari. Mereka telah menurunkan pasukannya berhadap-hadapan dengan front terdepan Hizbullah. Usaha mereka adalah mengepung pasukan Hizbullah yang tidak memiliki teropong malam. Karena tidak memiliki senjata penangkal udara dan alat untuk melihat malam, maka tidak ada yang dapat dilakukan. Salah seorang dari komandan Hizbullah sangat sedih melihat kondisi pasukannya, karena selain itu juga amunisi telah habis. Dalam kondisi genting dan di tengah kegelapan malam, akhirnya ia tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi bertemu dengan Sayyidah Zainab anak Imam Ali bin Abi Thalib as.
Dalam pertemuan itu ia menjelaskan keadaan yang sangat genting sambil tidak lupa agar meminta agar ditolong karena bila kondisi ini terus berlangsung, maka semua anggotanya bakal habis. Dalam mimpinya ia memaksa agar segera dibantu. Sayyidah Zainab berkata bahwa jangan khawatir karena segalanya akan berjalan lancar. Namun, karena terus didesak, akhirnya beliau menunjukkan kepada seorang wanita. Ia mengatakan bahwa saya mengenalnya dan itu adalah Sayyidah Fathmah az-Zahra. Setelah mendekat dan mengulang kembali permohonannya agar anggota pasukannya ditolong karena tidak ada lagi yang dapat diandalkan. Sayyidah Zahra berkata agar kami berdoa dan segalanya akan berjalan lancar.
Tapi saya masih terus memaksa agar beliau melakukan satu hal yang dapat menyelamatkan mereka. Hasilnya, beliau kemudian mengeluarkan sapu tangannya dan menggerak-gerakkannya, setelah itu beliau berkata, “Pergilah! Segalanya telah selesai”. Setelah diberi perintah demikian ia lalu terbangun. Ketika terbangun ia melihat sebuah helikopter hancur berkeping-keping. Ia lalu bertanya kepada, “Apa yang sedang terjadi? Setelah itu ia menuju pos tempat berkumpul anggota pasukannya dan bertanya apa yang terjadi? Ada yang menjawab bahwa kami sedang duduk-duduk, tiba-tiba saya bangkit untuk menembak. Ketika saya akan menembak, tiba-tiba helikopter itu terbakar dan meledak. Masalahnya di sini, bukannya helikopter yang hancur berkeping-keping, tapi pasukan Israel menjadi yakin bahwa kami memiliki teropong untuk melihat malam dan memiliki senjata yang dapat menembak mereka pada malam hari. Dengan perhatian yang diberikan oleh Sayyidah Zahra as. bukan saja helikopter meledak, tapi mereka tidak lagi berani menyerang karena percaya kami dapat melihat mereka pada malam hari dan memiliki senjata yang dapat menembak mereka pada malam hari.
3. Cerita ini juga disampaikan langsung oleh Sayyid Hasan Nasrullah. Di lini terdepan ada pasukan yang sangat percaya diri dapat bertahan melawan serangan Israel. Sayyid Hasan Nasrullah sempat memerintahkan mereka untuk mundur sebagai taktik karena amunisi juga telah habis, bahkan bukan itu saja karena persediaan makanan juga telah habis. Setelah kami perintahkan agar mundur, mereka bertanya apakah ini sebuah perintah? Bila ini adalah perintah kami akan menaati dan akan mundur. Namun, bila kami diberi izin, maka kami akan tinggal di sini. Kami masih ingin bertahan dan melakukan perlawanan di sini. Sayyid Hasan Nasrullah menjawab, “Terserah kalian”. Banyak dari mereka yang syahid dalam usahanya mempertahankan kawasan itu. Israel menurunkan pasukan penerjunnya dan pasukannya di tempatkan tepat di depan mereka yang dipisahkan oleh sungai. Israel sangat ingin menguasai kawasan ini dan menjadikannya batas teritorialnya dengan Lebanon.
Pasukan penerjun diturunkan di belakang pasukan Hizbullah dan di depannya pasukan Israel yang terpisah oleh sungai. Mereka terjepit oleh dua pasukan. Kedua pasukan Israel yang berusaha menjepit pasukan Hizbullah dan bersiap untuk menghancurkan mereka. Dalam kondisi seperti ini, mereka masih berhasil melakukan hubungan dengan pasukan Hizbullah lainnya untuk menyerang pasukan yang tengah mengurungnya. Tapi jawaban yang diterima adalah kami juga telah kehabisan amunisi. Namun, ketika itu mereka tidak mendengar dengan jelas bahwa jawaban dari pasukan Hizbullah yang lain adalah kalian jangan terlalu mengandalkan kami, karena kami juga telah kehabisan amunisi.
Ketidakmengertian ini terjadi karena sandi yang dikirimkan tidak terbaca dengan baik. Tapi sesaat kemudian, tepat di lokasi pasukan Israel terdengar suara-suara ledakan, sepertinya mereka diserang dengan hebat dengan persenjataan artileri berat. Setelah pasukan Israel kocar-kacir, mereka kemudian mengirim sandi kepada pasukan lainnya bahwa apa serangan kalian tepat mengenai sasaran. Pasukan itu malah bertanya kapan kami menyerang mereka? Kami tidak memiliki apa-apa sehingga dapat menembak mereka. Yang dipahami oleh pasukan yang terjepit dari sandi yang dikirim waktu itu adalah, “iya kami akan menyerang mereka, dan kami melihat bahwa kalian menghujani mereka dengan hebat yang membuat mereka melarikan diri”. Tidak ada yang tahu, serangan dan tembakan itu berasal dari mana. Bagaimana sampai pasukan Israel takut dan melarikan diri kembali ke pangkalannya tidak ada yang tahu. Yang terpenting adalah mereka tidak kembali lagi ke kawasan itu. Kemenangan Hizbullah dalam perang 33 hari seperti kemenangan yang seperti ini. [Saleh L]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih dan Tolong Komentari Demi Lebih Baiknya Blog Yang kami Buat.